KUPANG, 6 Mei 2026– Ikatan Kaum Intelektual Fatuleu (IKIF) melayangkan kecaman keras kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT. Pemicunya: carut-marut pengumuman kelulusan SMA/SMK/SLB se-NTT pada 4 Mei 2026 yang diwarnai dugaan pungli dan euforia negatif yang dibiarkan.
Berdasarkan pemantauan IKIF bersama jaringan mahasiswa kedaerahan di 8 kabupaten, ditemukan dua pelanggaran sistemik yang mencoreng dunia pendidikan NTT.
1. Pungli Berkedok “Uang Sukarela
IKIF mencatat pungutan liar terjadi di sejumlah sekolah dengan modus sumbangan kelulusan, uang cap tiga jari, hingga biaya cetak ijazah. Besarannya bervariasi, Rp50 ribu sampai Rp200 ribu per siswa. Ironisnya, pungutan itu disebut “sukarela” tapi siswa yang belum bayar ditahan SKL-nya.
2. Euforia Negatif Tanpa Kendali
Konvoi motor ugal-ugalan, coret-coret seragam, pesta miras, hingga balapan liar pecah di Kupang, Soe, Kefamenanu, dan Ende. Di Naibonat, Kabupaten Kupang, dua siswa SMK jadi korban kecelakaan saat ikut konvoi. IKIF menyoroti tidak adanya Surat Edaran pencegahan dari Dinas Pendidikan Provinsi sebelum hari H. Pengawasan dari pihak sekolah juga nihil.
Ketua Umum IKIF, Marsel Nomeni, menilai Kadis Pendidikan Provinsi NTT gagal total menjalankan fungsi pembinaan dan pengawasan.
“Kelulusan 4 Mei 2026 adalah potret buruk pendidikan NTT. Ada pungli, ada siswa celaka, ada sekolah yang lepas tangan. Ini tanggung jawab provinsi sesuai UU Sisdiknas. Jangan dilempar ke kabupaten,” tegas Marsel.
Marsel menyebut pembiaran ini adalah gerbang awal kejahatan yang lebih besar.
“Kadis Pendidikan Provinsi gagal memberikan pendidikan primer maupun sekunder. Pembiaran euforia negatif akan jadi pintu masuk kekerasan seksual, mabuk-mabukan, dan ugal-ugalan. Ini sungguh memalukan dan mencoreng marwah pendidikan,” ujarnya.
IKIF mendesak Kadis Pendidikan Provinsi NTT untuk:
1. Usut tuntas praktik pungli di sekolah dan beri sanksi tegas kepala sekolah yang terlibat.
2. Evaluasi total mekanisme pengumuman kelulusan agar tahun depan tidak terulang.
3. Minta maaf terbuka kepada publik NTT atas kelalaian yang menyebabkan siswa celaka.
“Jangan anggap ini polemik biasa. Kalau dibiarkan, budaya ini akan merajalela dan merusak generasi muda NTT ke depan,” tutup Marsel.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT belum memberikan tanggapan resmi.












