KUPANG, 3 Juni 2026 – Aktivis mahasiswa Kabupaten Kupang, Rio Kefan, mendesak Pemda Kabupaten Kupang bersama Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif segera turun tangan menyelamatkan Gunung Fatuleu. Kawasan yang jadi ikon alam, budaya, dan spiritual warga Fatuleu itu kini nyaris mati suri.
Dalam 3 tahun terakhir, promosi berhenti dan infrastruktur rusak parah. Padahal potensinya besar untuk trekking, camping, dan wisata budaya.
“Gunung Fatuleu adalah identitas kami. Sayang kalau dibiarkan mati pelan-pelan,” tegas Rio, Selasa 3/06/2026.
Berdasarkan pantauan di lapangan, Rio merinci 3 masalah utama yang mencekik wisata Gunung Fatuleu:
1. Akses Rusak Parah
Jalan menuju kaki gunung dari Desa Nunsaen putus di beberapa titik. Tidak ada rambu wisata. Wisatawan maupun warga lokal kesulitan mencapai lokasi.
2. Fasilitas Terbengkalai
Shelter pendakian ambruk, toilet umum tidak berfungsi, jalur pendakian tergerus erosi dan ditutup pohon tumbang.
3. Minim Promosi
Nama Gunung Fatuleu hilang dari kalender event pariwisata Kabupaten Kupang sejak 2023. Padahal momentum budaya dan alamnya bisa jadi magnet wisatawan.
Melihat kondisi itu, Rio menuntut 2 langkah konkret ke Pemda dan Dinas Pariwisata:
1. Audit & Revitalisasi Total
Dinas Pariwisata dan PUPR wajib turun cek lapangan. Alokasikan anggaran perubahan 2026 untuk perbaikan akses, pembangunan ulang shelter, toilet layak, dan pembukaan jalur aman.
2. Masuk Kalender Wisata 2027
Jadikan Festival Budaya Fatuleu agenda tahunan resmi Pemda. Promosikan secara masif lewat kanal Pemprov NTT dan Kemenparekraf, bukan cuma seremonial.
“Wisata tidak hidup dari baliho. Wisata hidup kalau akses dibuka, rakyat dilibatkan, dan Pemda hadir bukan hanya saat seremonial,” tutup Rio.
Desakan ini menguat seiring banyaknya keluhan warga dan pegiat wisata lokal yang menilai Gunung Fatuleu punya potensi besar tapi minim sentuhan kebijakan.







Komentar