Jihad Abd Mujahid lahir di Garut, Jawa Barat, pada tahun 1992. Ia dikenal sebagai jurnalis, penulis, pegiat literasi, web developer, dan pengembang media digital. Namun, perjalanan hidupnya tidak dibangun dari kemudahan dan kenyamanan. Sebaliknya, ia tumbuh dari pengalaman hidup yang keras, kehilangan, kegagalan, dan perjuangan untuk mempertahankan mimpi di tengah keterbatasan.
sejak kecil, Jihad memiliki ketertarikan terhadap dunia membaca, menulis, melukis, dan pemikiran-pemikiran yang bersifat filosofis. Ia percaya bahwa setiap peristiwa dalam kehidupan menyimpan pelajaran yang dapat dipelajari. Ketertarikan tersebut membentuk kebiasaannya untuk membaca, mencatat, dan menulis berbagai hal yang ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan formalnya dimulai di SDN Tegallega 1 Garut, kemudian melanjutkan ke SMP Islam Cikuya Bungbulang, MA Al-Jihad Papanggo Jakarta Utara, dan SMA YABAPA Neglasari Pakenjeng Garut. Pada masa SMA, ia mulai menunjukkan minat yang besar terhadap pemikiran, logika, dan filsafat. Saat itulah ia menyusun sebuah karya yang diberi nama “Rumus Al Jihad”, sebuah konsep matematika berbasis kode dan falsafah yang mencoba menghubungkan logika angka dengan nilai-nilai kehidupan. Meski karya tersebut belum pernah dipublikasikan, Rumus Al Jihad menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan intelektualnya.
Setelah lulus SMA, ia melanjutkan pendidikan ke STKIP Ganesha Bandung. Namun kehidupan di kota besar tidak berjalan seperti yang dibayangkannya. Di tengah perjuangan menempuh pendidikan, ia harus menghadapi kenyataan pahit ketika orang tuanya meninggal dunia. Sejak saat itu, ia tidak lagi memiliki penopang ekonomi dan harus membiayai kehidupannya sendiri.
Untuk bertahan hidup sekaligus membayar biaya kuliah, ia berdagang sebagai pedagang kaki lima di Bandung. Kehidupan sebagai mahasiswa dan pedagang jalanan mempertemukannya dengan berbagai realitas sosial yang tidak pernah diajarkan di ruang kelas. Ia melihat bagaimana masyarakat kecil berjuang setiap hari untuk bertahan hidup di tengah berbagai keterbatasan.
Pada tahun 2014, ia mulai aktif menulis melalui blog pribadi . Blog tersebut menjadi ruang untuk menuangkan gagasan, kritik sosial, pengalaman hidup, serta pandangannya mengenai pendidikan dan kebijakan publik. Sebagai mahasiswa sekaligus pedagang kaki lima, ia sering menulis kritik terhadap berbagai kebijakan yang menurutnya kurang berpihak kepada masyarakat kecil.
Pengalaman paling berat dalam hidupnya terjadi ketika lokasi tempatnya berdagang terkena dampak penertiban. Modal usaha yang menjadi sumber biaya hidup dan biaya kuliah hilang. Peristiwa tersebut membuatnya kehilangan kemampuan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Akhirnya, dengan berat hati, ia menghentikan kuliahnya.
Bagi sebagian orang, kegagalan menyelesaikan kuliah mungkin menjadi akhir dari perjalanan pendidikan. Namun bagi Jihad, justru dari situlah ia mulai mempertanyakan makna pendidikan yang sesungguhnya.
Ia melihat bahwa banyak orang gagal melanjutkan sekolah bukan karena tidak cerdas, melainkan karena keadaan ekonomi. Ia mulai merasa kecewa terhadap sistem pendidikan yang menurutnya belum sepenuhnya mampu menjangkau mereka yang berada di lapisan bawah masyarakat. Pengalaman kehilangan kesempatan kuliah akibat faktor ekonomi dan pengalaman tergusur sebagai pedagang kaki lima meninggalkan luka sekaligus pertanyaan besar dalam dirinya: apakah pendidikan hanya milik mereka yang memiliki akses dan kemampuan finansial?
Kekecewaan itulah yang kemudian berubah menjadi energi untuk membangun gerakan literasi.
Pada tahun 2016, ia mendirikan Komunitas Literasi Sakabaca di Bandung. Sakabaca lahir bukan dari ruang seminar atau proyek akademik, melainkan dari pengalaman hidup seorang anak muda yang pernah kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan. Komunitas ini menjadi bentuk perlawanan intelektual terhadap keadaan yang pernah dialaminya.
Bagi Jihad, jika seseorang tidak memiliki kesempatan menempuh pendidikan formal, bukan berarti ia kehilangan kesempatan untuk belajar. Melalui Sakabaca, ia berusaha membangun ruang belajar yang lebih terbuka melalui kegiatan membaca, menulis, diskusi, dan berbagi pengetahuan.
Nama Sakabaca lahir dari keyakinannya bahwa perubahan selalu dimulai dari membaca dan berpikir. Komunitas tersebut menjadi rumah bagi siapa saja yang ingin belajar tanpa memandang latar belakang pendidikan maupun status sosial.
Di tengah aktivitas literasi, ia terus menulis di berbagai platform digital seperti Kompasiana, Retizen, Medium, Quora, dan berbagai media daring lainnya. Tulisannya banyak membahas pendidikan, sosial, budaya, jurnalistik, teknologi, dan refleksi kehidupan. Baginya, menulis adalah cara untuk merawat ingatan, menyampaikan gagasan, sekaligus memperjuangkan nilai-nilai yang diyakininya.
Perjalanan profesionalnya di dunia jurnalistik dimulai secara serius ketika bergabung dengan berbagai media. Ia pernah menjadi Wartawan dan Editor di Sinar Priangan pada periode 2022–2024. Selanjutnya ia menjadi Staf Redaksi, Editor, dan Administrator Media di HarianPedia.com pada periode 2024–2025.
Pengalaman tersebut membawanya memahami dunia media secara lebih luas, mulai dari peliputan, penulisan berita, pengelolaan redaksi, hingga pengembangan media digital. Pada tahun 2025, ia dipercaya menjadi Pimpinan Redaksi Discoverynews.id, sebuah media online yang terus berkembang dengan semangat menghadirkan informasi yang cepat, akurat, edukatif, dan dekat dengan masyarakat.
Selain jurnalistik, Jihad juga mengembangkan kemampuan di bidang teknologi informasi. Ia aktif membangun dan mengelola website, mengembangkan media berbasis WordPress, mengelola hosting dan domain, mempelajari optimasi mesin pencari (SEO), serta memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk mendukung pengembangan media digital.
Sebagai penulis, ia menerbitkan buku berjudul The War of Journalists (ISBN: 978-623-8581-27-6). Buku tersebut membahas tantangan, etika, strategi, dan masa depan profesi jurnalistik di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin cepat.
Di luar dunia jurnalistik dan teknologi, ia tetap menjaga kecintaannya terhadap seni. Melukis menjadi salah satu cara baginya untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan yang tidak selalu dapat dituangkan melalui tulisan. Seni, literasi, dan teknologi menjadi tiga ruang yang saling melengkapi dalam perjalanan hidupnya.
Kisah Jihad Abd Mujahid adalah kisah tentang seseorang yang tidak menyerah ketika kehilangan kesempatan. Ia pernah kehilangan orang tua, kehilangan modal usaha, kehilangan kesempatan menyelesaikan kuliah, dan mengalami kerasnya kehidupan jalanan. Namun dari berbagai kehilangan tersebut, ia menemukan jalan baru melalui literasi, jurnalistik, dan pendidikan masyarakat.
Hingga hari ini, ia masih meyakini bahwa pendidikan sejati tidak hanya lahir dari ruang kelas, tetapi juga dari pengalaman hidup, keberanian berpikir, kemauan membaca, dan ketekunan untuk terus belajar. Melalui tulisan, media, teknologi, dan gerakan literasi, ia terus berupaya membangun ruang pengetahuan yang lebih terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar dan bertumbuh.
Baginya, buku dapat dibakar, sekolah dapat ditinggalkan, pekerjaan dapat hilang, tetapi semangat untuk belajar tidak boleh pernah padam. Itulah keyakinan yang terus ia pegang dalam perjalanan hidupnya hingga hari ini.
Red







Komentar