oleh

ZELFBESTUUR 1916–2026: DARI TUNTUTAN PEMERINTAHAN SENDIRI MENUJU KEDAULATAN BANGSA YANG SEJATI

Oleh: Rizki Hadiansyah Ketua Umum Terpilih PD SEMMI Garut

Discoverynews.id. 16 Juni 2026 -Tahun 2026 menandai 110 tahun gaung besar Zelfbestuur yang dikumandangkan oleh Guru Bangsa, H.O.S. Tjokroaminoto, dalam Kongres Nasional Sarekat Islam di Bandung tahun 1916. Pada saat bangsa ini masih hidup dalam bayang-bayang kolonialisme, Tjokroaminoto telah berdiri tegak menyatakan bahwa rakyat bumiputera berhak menentukan nasibnya sendiri melalui pemerintahan sendiri (zelfbestuur). Gagasan tersebut bukan sekadar tuntutan politik, melainkan sebuah deklarasi harga diri bangsa yang menolak diperintah sebagai objek oleh kekuatan asing.

Dalam pidatonya, Tjokroaminoto menegaskan bahwa semakin banyak orang menyadari bahwa Hindia tidak pantas diperintah layaknya tanah milik seorang tuan tanah. Gagasan ini menjadi salah satu fondasi intelektual yang kemudian melahirkan cita-cita kemerdekaan Indonesia puluhan tahun kemudian.

Namun pertanyaan besar yang harus kita ajukan hari ini adalah: *apakah Zelfbestuur telah benar-benar terwujud?*

Secara formal, Indonesia memang telah merdeka selama lebih dari delapan dekade. Bendera Merah Putih berkibar di seluruh penjuru negeri. Presiden dipilih oleh rakyat. Konstitusi berdiri sebagai dasar negara. Akan tetapi, jika kita membaca Zelfbestuur hanya sebagai perpindahan kekuasaan dari kolonial Belanda kepada elite nasional, maka kita telah menyempitkan makna perjuangan Tjokroaminoto.

Bagi Sarekat Islam, Zelfbestuur bukan hanya soal siapa yang memegang kekuasaan, melainkan siapa yang menikmati hasil kekuasaan tersebut.

Hari ini kita menyaksikan paradoks yang mengkhawatirkan. Ketika rakyat dipaksa menghadapi kenaikan biaya hidup, harga energi yang terus menekan daya beli, lapangan pekerjaan yang semakin kompetitif, dan ketidakpastian ekonomi global, kita justru melihat konsentrasi kekuasaan yang semakin kuat pada segelintir kelompok. Demokrasi berjalan secara prosedural, tetapi sering kehilangan ruh keberpihakannya kepada rakyat.

Di tengah melemahnya nilai tukar, ketergantungan ekonomi terhadap modal asing, dominasi oligarki dalam berbagai sektor strategis, serta semakin lebarnya jurang antara pengambil kebijakan dan masyarakat akar rumput, maka pertanyaan Zelfbestuur kembali menemukan relevansinya:

Apakah bangsa ini benar-benar memerintah dirinya sendiri, atau hanya mengganti wajah penguasa tanpa mengubah sistem yang menindas rakyat?*

Tjokroaminoto mengajarkan bahwa kemerdekaan politik harus berjalan seiring dengan kemerdekaan ekonomi. Sebab bangsa yang bergantung secara ekonomi tidak akan pernah sepenuhnya merdeka secara politik. Karena itu Sarekat Islam sejak awal tidak hanya membangun gerakan politik, tetapi juga membangun kekuatan ekonomi umat melalui perdagangan, koperasi, dan pengorganisasian rakyat.

Di sinilah SEMMI harus mengambil posisi sejarahnya.

Sebagai anak ideologis Sarekat Islam, SEMMI tidak boleh terjebak menjadi sekadar organisasi seremonial yang sibuk mengurus agenda internal. SEMMI harus kembali menjadi laboratorium intelektual dan alat perjuangan rakyat. Sebab warisan terbesar Tjokroaminoto bukanlah romantisme sejarah, melainkan keberanian berpikir dan keberanian melawan ketidakadilan.

Zelfbestuur abad ke-21 bukan lagi perjuangan melawan kolonialisme fisik. Musuhnya kini jauh lebih kompleks: kolonialisme ekonomi, ketergantungan teknologi, monopoli sumber daya, oligarki politik, dan budaya pragmatis yang menggerus idealisme generasi muda.

Karena itu, memperingati 110 tahun Zelfbestuur tidak cukup hanya dengan mengenang pidato Tjokroaminoto. Yang lebih penting adalah menghidupkan kembali semangatnya.

Semangat untuk membangun bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri.

Semangat untuk menempatkan rakyat sebagai tujuan utama pembangunan.

Semangat untuk memastikan bahwa kekuasaan tidak menjadi alat segelintir elit, tetapi instrumen kesejahteraan bersama.

Semangat untuk mengembalikan politik kepada cita-cita pengabdian, bukan sekadar perebutan jabatan.

Bagi kami di PD SEMMI Garut, Zelfbestuur bukanlah artefak sejarah yang disimpan di lembar-lembar buku. Zelfbestuur adalah panggilan perjuangan yang terus hidup.

Dari Bandung tahun 1916 hingga Indonesia tahun 2026, pesan Tjokroaminoto masih menggema:

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani mengatur dirinya sendiri, menentukan nasibnya sendiri, dan berdiri di atas kekuatan dirinya sendiri.”

Maka pada peringatan 110 Tahun Zelfbestuur ini, kami menyerukan kepada seluruh pemuda, mahasiswa, dan kader perjuangan untuk kembali menyalakan api kesadaran kebangsaan.

Karena sesungguhnya perjuangan belum selesai.

Kemerdekaan politik telah kita raih pada tahun 1945.

Tetapi Zelfbestuur yang sejati kedaulatan ekonomi, keadilan sosial, dan kemerdekaan berpikir masih menjadi pekerjaan besar generasi kita.

110 Tahun Zelfbestuur.
110 Tahun Perlawanan terhadap Ketidakadilan.
110 Tahun Ikhtiar Menegakkan Kedaulatan Bangsa.

“Jika dahulu Tjokroaminoto melawan kolonialisme, maka hari ini tugas kita adalah melawan segala bentuk penindasan yang menghalangi rakyat menjadi tuan di negerinya sendiri.”

Rizki Hadiansyah
Ketua Umum Terpilih PD SEMMI Garut

Komentar