Jakarta Discoverynews — Pekerjaan sebagai disc jockey (DJ) membawa Anggun Maharani ke berbagai ruang hiburan.
Namun, sebuah undangan untuk tampil di acara privat berubah menjadi pengalaman yang menurut kesaksiannya meninggalkan luka fisik dan trauma hingga kini.
Maharani mengatakan dirinya pertama kali mengenal orang yang mengundangnya melalui seorang teman perempuan.
Ia kemudian diminta tampil sebagai DJ dalam sebuah acara ulang tahun.
Tidak ada yang menurutnya mengisyaratkan bahwa malam itu akan berakhir dengan kekerasan.
Dalam percakapan yang disampaikan Maharani, acara tersebut berlangsung di sebuah ruang privat.
Ia mengatakan dirinya diminta mematikan telepon seluler dan ruangan dikunci dengan alasan menjaga privasi acara.
Situasi berubah ketika seorang tamu datang.
“Dia nunjukin kem#l”@n/@ ke aku,” kata Maharani dalam wawancara.
Menurut kesaksiannya, tamu tersebut kemudian memaksa dirinya melakukan tindakan seksual. Maharani mengatakan ia menolak.
Penolakan itu, menurut dia, justru memicu kemarahan.
Ia mengaku bajunya dirobek, kemudian diseret ke kamar. Di ruangan tersebut, ia mengaku dipukuli secara brutal.
Kepalanya dibenturkan hingga mengalami luka dan sempat kehilangan kesadaran.
Maharani juga mengatakan terjadi tindakan seksual secara paksa terhadap dirinya.
Ketika berusaha melarikan diri, ia mengaku kembali dikejar dan ditusuk pada bagian kaki menggunakan garpu.
Kesaksian tersebut menggambarkan satu persoalan yang lebih besar dari sekadar insiden di sebuah pesta:
Bagaimana ruang privat, alasan kerahasiaan acara, dan relasi kuasa dapat membuat seseorang berada dalam situasi yang sulit meminta pertolongan ketika kekerasan terjadi.
Dari Undangan Tampil Menjadi Korban Kekerasan
Maharani mengatakan dirinya tidak pernah membayangkan pekerjaan sebagai DJ pada sebuah acara privat dapat berujung seperti itu.
“Aku enggak nyangka bisa terjadi seperti ini,” katanya.
Ia mengaku pengalaman tersebut merupakan pertama kalinya menghadapi tamu dengan perilaku seperti yang ia ceritakan.
Karena itu, menurut Maharani, persoalan keamanan pekerja hiburan dalam acara privat perlu menjadi perhatian.
Pekerja yang datang untuk menjalankan profesinya seharusnya memiliki mekanisme perlindungan
ketika berhadapan dengan tamu yang melakukan pelecehan, ancaman, ataupun kekerasan.
Dalam kasus Maharani, pertanyaan pentingnya bukan hanya apa yang terjadi di dalam kamar,
Tetapi juga bagaimana seseorang dapat berada dalam situasi tersebut tanpa memiliki ruang aman untuk menghentikannya.
Maharani mengatakan setelah peristiwa tersebut, sejumlah orang menghubunginya melalui pesan langsung.
Menurut dia, beberapa orang mengaku mengenal sosok yang disebutnya sebagai pelaku.
Salah satu informasi yang diterimanya menyebut orang tersebut memiliki temperamen dan pernah terlibat persoalan dengan perempuan lain.
Maharani juga menyebut cerita mengenai seorang mantan pramugari yang disebut pernah mengalami pertengkaran dengan orang tersebut hingga nyaris dilempar dari lantai dua.
Luka yang Tidak Berhenti Ketika Acara Selesai
Bagi Maharani, kejadian itu tidak berakhir ketika dirinya meninggalkan lokasi.
Ia mengatakan kini takut bepergian seorang diri.
Ia juga mengaku mengalami tekanan psikologis dan keluhan fisik setelah peristiwa tersebut.
Menurutnya, kepalanya sering sakit dan ia beberapa kali mengalami muntah ketika mengalami stres.
“Aku sekarang takut ke mana-mana,” ujarnya.
Ia mengatakan luka pada kepalanya sampai membutuhkan penanganan karena mengalami pendarahan.
Keluhan tersebut menunjukkan bahwa dampak kekerasan, menurut pengalaman yang disampaikan Maharani, tidak berhenti ketika korban meninggalkan lokasi kejadian.
Karena itu, selain proses hukum, korban membutuhkan akses terhadap pemeriksaan medis, pemulihan psikologis, pendampingan hukum, dan lingkungan yang aman.
Yang Perlu Dijawab Bukan Hanya Korban
Kasus semacam ini tidak semestinya berhenti pada pertanyaan mengapa korban berada di tempat tersebut atau mengapa ia datang memenuhi undangan.
Maharani datang untuk bekerja.
Ia mengatakan dirinya menerima undangan sebagai DJ untuk sebuah acara.
Persoalannya bukan lagi tentang keputusan seorang perempuan datang ke sebuah acara privat,
Melainkan tentang tindakan seseorang yang diduga menggunakan situasi tersebut untuk melakukan kekerasan terhadapnya.
“Saya Berharap Tidak Ada Korban Lagi”
Maharani mengatakan harapannya sederhana: orang yang menurut kesaksiannya melakukan kekerasan segera ditemukan dan diproses sesuai hukum.
Ia tidak ingin ada perempuan lain mengalami pengalaman serupa.
“Harapannya pelaku segera ditangkap dan enggak ada korban lagi selain aku,”











Komentar