GORONTALO, Discoverynews.id — Radio Suara Rakyat Hulondalo (Suara RH) bersiap memasuki babak baru. Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan digitalisasi media, radio yang berstatus sebagai Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) tersebut tengah menyiapkan transformasi untuk menjawab perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi informasi.
Gagasan perubahan itu digagas Kepala Bidang Pengelolaan Informasi dan Saluran Komunikasi Publik (PISKP), Liesyawati Ali, melalui Proyek Perubahan dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan I Tahun 2026.
Transformasi yang ditawarkan tidak hanya menyentuh tampilan radio, tetapi juga menyasar konten, target pendengar hingga pola distribusi siaran. Sejumlah konsep yang disiapkan antara lain survei pendengar, rebranding serta digitalisasi siaran.
Liesyawati mengatakan, survei pendengar menjadi langkah awal untuk memastikan perubahan yang dilakukan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kecenderungan masyarakat.
“Jadi kita akan awali dengan survei untuk mengetahui kecenderungan publik, sebetulnya mereka maunya media radio itu kayak gimana sih? Pendengar radio kita itu mayoritas range umurnya berapa? Isi siarannya seperti apa dan seterusnya,” kata Liesyawati usai memimpin rapat persiapan awal di Kantor Radio Suara RH, Senin (14/9/2026).
Menurutnya, hasil survei nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan arah pengembangan Radio Suara RH. Mulai dari karakteristik pendengar, materi siaran, target dan sasaran hingga bentuk media yang akan dikembangkan.
Dengan demikian, perubahan yang dilakukan tidak sekadar mengikuti tren, tetapi berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat sebagai pendengar.
Mantan Kepala Stasiun (Kepsta) tersebut juga menawarkan konsep rebranding untuk memperbarui citra Radio Suara RH agar tampil lebih segar dan relevan dengan perkembangan zaman.
Rebranding itu mencakup pembaruan identitas visual melalui penggantian logo, repositioning hingga penyegaran isi siaran. Selain itu, digitalisasi perangkat dan sistem penyiaran juga menjadi bagian penting dari transformasi yang sedang disiapkan.
“Jadi ketika kita sudah ketahui keinginan publik, maka kita lakukan pembaruan citra melalui penggantian logo sebagai identitas radio, termasuk repositioning dan pembaruan isi siaran. Kita juga akan berupaya agar peralatan untuk mendukung digitalisasi radio bisa terwujud,” ujarnya.
Liesyawati menyebut konsep transformasi tersebut mendapat persetujuan dan dukungan dari Kepala Dinas Kominfotik Gorontalo, Trizal Entengo, selaku Direktur Utama.
Dukungan tersebut menjadi modal penting untuk mendorong Radio Suara RH tidak hanya bertahan sebagai radio konvensional, tetapi mampu berkembang mengikuti pola konsumsi informasi masyarakat yang semakin beragam.
Pihaknya menargetkan survei publik mulai dilaksanakan pada awal Oktober 2026. Setelah data terkumpul, hasil survei akan dikaji untuk menentukan kembali target dan sasaran pendengar sekaligus menyusun strategi perubahan media dan isi siaran.
Transformasi tersebut ditargetkan mulai terlihat secara lebih menyeluruh pada awal 2027. Radio Suara RH diharapkan tidak hanya mengudara melalui kanal konvensional, tetapi juga hadir secara lebih masif di berbagai kanal digital.
Dengan wajah baru, konten yang lebih sesuai kebutuhan publik dan dukungan teknologi, Suara RH diharapkan mampu memperluas jangkauan pendengar sekaligus mempertahankan eksistensinya sebagai media informasi publik di tengah persaingan ekosistem media digital yang semakin ketat














Komentar