Jakarta, Discoverynews.id ~ Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO), melalui laporan State of the Climate in the South-West Pacific 2025, memperingatkan bahwa gletser tropis terakhir di Papua diperkirakan dapat menghilang pada akhir 2026 atau awal 2027.
Pada tahun 2025, tutupan es tropis yang tersisa di Papua, Indonesia, diperkirakan hanya sekitar 2% dari luas es yang diamati pada tahun 1988. Gletser tropis terakhir yang tersisa di wilayah tersebut diperkirakan akan menghilang pada akhir tahun 2026 atau awal tahun 2027, menurut laporan tersebut.
Ketika salju abadi tak lagi abadi
Di tengah hutan tropis Papua, jauh di atas pegunungan yang menjulang, hamparan es pernah menjadi pemandangan yang menakjubkan. Kawasan Puncak Cartenz, yang juga dikenal sebagai Puncak Jaya atau Carstensz, merupakan salah satu tempat langka di wilayah tropis yang memiliki gletser. Namun, pemandangan itu kini berada di ambang kepunahan.
Lapisan es yang selama ini dikenal sebagai salju abadi terus menyusut. Pemanasan global membuat suhu meningkat, sehingga es mencair lebih cepat daripada kemampuannya untuk terbentuk kembali. Ancaman ini bukan sekadar perkiraan tanpa dasar. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa gletser Papua telah kehilangan sebagian besar luasnya dalam lebih dari satu abad terakhir.

Lebih dari 99 persen es telah hilang
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Cryosphere pada 2025 mencatat bahwa luas gletser Puncak Jaya telah menyusut lebih dari 99 persen dibandingkan sekitar 1850.
Pada 2018, luas gletser yang diteliti masih sekitar 0,468 kilometer persegi. Namun, pada 2024, luasnya tinggal sekitar 0,165 kilometer persegi. Artinya, sekitar 65 persen luas es yang tersisa pada 2018 telah hilang dalam enam tahun.
Penelitian dalam The Cryosphere juga memproyeksikan bahwa gletser tersebut dapat menghilang sekitar 2030 apabila laju penyusutannya terus berlanjut.
Kedua perkiraan itu bukan tanggal kepunahan yang pasti. Namun, keduanya memperlihatkan betapa cepat perubahan sedang berlangsung di salah satu lingkungan paling unik di Indonesia.

Alarm perubahan iklim dari Papua
Pemanasan global yang terutama didorong oleh aktivitas manusia, termasuk pembakaran bahan bakar fosil, meningkatkan suhu rata-rata bumi. Di pegunungan tinggi, kenaikan suhu dapat mengganggu keseimbangan antara pembentukan salju dan pencairan es.
Gletser Papua sangat rentan karena ukurannya relatif kecil dan berada di lingkungan tropis yang sensitif terhadap perubahan suhu
Ketika es terakhir menghilang, tidak akan mudah mengembalikannya. Pembentukan kembali gletser membutuhkan kondisi iklim yang mendukung dalam jangka panjang.
Meski demikian, upaya mengurangi emisi gas rumah kaca tetap penting untuk membatasi pemanasan lebih lanjut.
Penelitian dan dokumentasi juga perlu dilanjutkan agar perubahan yang terjadi di Papua menjadi pelajaran bagi generasi mendatang.
Kisah Puncak Cartenz mengingatkan kita bahwa sesuatu yang disebut abadi ternyata dapat menghilang ketika keseimbangan alam berubah.
Suatu hari nanti, salju Papua mungkin hanya tersisa dalam foto, rekaman ekspedisi, dan ingatan orang-orang yang pernah menyaksikannya.
Ketika itu terjadi, dunia bukan sekadar kehilangan hamparan es di puncak tropis. Kita juga kehilangan bagian langka dari warisan alam bumi sebuah peringatan bahwa perubahan iklim sedang berlangsung sekarang, bukan hanya menjadi ancaman bagi masa depan.














Komentar