oleh

Ketika Sistem Pendidikan Melanggengkan Ketidakadilan: Saatnya Revolusi Kesadaran

Ketika negara menjadi pasar, anggaran pendidikan berubah menjadi rebutan kepentingan. Hak pendidik seolah harus ditebus dengan jatah, sementara mereka yang tidak kebagian dapat mencari kesalahan, membangun narasi buruk, lalu menjadikannya alat untuk menekan dan memeras. Pendidik terjebak dalam lingkaran ketakutan, birokrasi kehilangan arah, dan generasi menjadi korban yang paling tidak diperhitungkan.

Masalahnya bukan sekadar siapa yang duduk di kursi jabatan, melainkan sistem yang memungkinkan jabatan menjadi alat transaksi, pengawasan menjadi ancaman, dan hak menjadi komoditas. Mengganti orang tanpa membongkar mekanismenya hanya akan melahirkan pelaku baru dalam lingkaran ketidakadilan yang sama.

Paulo Freire, pemikir pendidikan asal Brasil, melalui Pedagogy of the Oppressed, mengkritik sistem pendidikan yang mempertahankan penindasan alih-alih membebaskan manusia. Sementara itu, Karl Marx mengajak kita memahami bagaimana kepentingan material dan struktur ekonomi dapat membentuk relasi kekuasaan. Gagasan mereka mendorong kita mempertanyakan: apakah sistem yang kita jalani benar-benar memanusiakan manusia, atau justru melanggengkan ketidakadilan?

Kita tidak membutuhkan sekadar pergantian pemangku kepentingan jabatan. Kita membutuhkan revolusi kesadaran: keberanian untuk mempertanyakan sistem, transparansi dalam pengelolaan anggaran, perlindungan terhadap mereka yang rentan ditekan, dan ketegasan dalam menindak penyalahgunaan wewenang berdasarkan bukti.

Revolusi bukan berarti mengganti satu ketidakadilan dengan ketidakadilan lainnya. Revolusi berarti memutus mekanisme yang melahirkan ketidakadilan, menuntut pertanggungjawaban, dan membangun tatanan yang tidak mudah dibajak oleh kepentingan pribadi.

Jangan ajarkan kejujuran kepada generasi sambil membiarkan ketidakjujuran tumbuh dalam tata kelola. Jangan menuntut pendidik membangun karakter anak bangsa apabila sistem justru menguras tenaga mereka untuk bertahan dari tekanan.

Baca Juga  Pulau Peucang, Pesona Wisata Alam di Kawasan Warisan Dunia UNESCO

Saatnya generasi menggugat! Bongkar mekanisme yang menyimpang, awasi anggaran, lindungi mereka yang menjalankan tugas dengan benar, dan kembalikan setiap kebijakan kepada tujuan utamanya: kepentingan masyarakat.

Sebab, ketika sistem lebih sibuk membagi keuntungan daripada membangun manusia, yang dikorbankan bukan hanya keadilan hari ini, melainkan masa depan generasi berikutnya.

Perubahan sejati tidak dimulai dengan sekadar mengganti siapa yang berkuasa, tetapi dengan membangun kesadaran untuk mengubah sistem yang memungkinkan ketidakadilan terus berulang.

jihad
Author: jihad