Ada satu gagasan yang menarik untuk direnungkan: Tuhan menciptakan alam dengan keteraturan, sementara manusia mencoba memahami keteraturan itu melalui ilmu pengetahuan dan matematika.
Kita tentu tidak dapat mengatakan bahwa matematika mampu menjelaskan Tuhan secara keseluruhan. Tuhan bukan sebuah persamaan yang dapat diselesaikan manusia. Namun, matematika memberikan salah satu cara bagi manusia untuk membaca pola, hubungan, proporsi, dan keteraturan yang terdapat di alam.
Salah satu pola yang menarik dalam sejarah matematika adalah deret Fibonacci. Deret ini dikenal melalui karya Leonardo dari Pisa, yang lebih dikenal dengan nama Fibonacci. Polanya sederhana: 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, dan seterusnya. Setiap bilangan diperoleh dari penjumlahan dua bilangan sebelumnya.
Menariknya, ketika bilangan Fibonacci yang berurutan dibandingkan, hasil perbandingannya semakin mendekati angka 1,618033… Angka tersebut dikenal sebagai golden ratio atau rasio emas.
Rasio emas sendiri bukan ditemukan oleh Fibonacci. Konsep mengenai perbandingan tersebut telah dikenal jauh sebelum Fibonacci. Namun, deret Fibonacci memberikan contoh yang sederhana tentang bagaimana sebuah pola bilangan dapat semakin mendekati rasio tersebut.
Bagi saya, yang menarik bukan hanya angka 1,618 itu sendiri.
Yang menarik adalah gagasan tentang keteraturan.
Dari sesuatu yang sederhana, muncul pola. Dari pola, muncul hubungan. Dari hubungan, terbentuk struktur. Dan ketika berbagai bagian ditempatkan dalam hubungan yang tepat, lahirlah sebuah sistem yang lebih besar daripada bagian-bagiannya.
Di sinilah matematika mulai bertemu dengan filsafat.
Manusia juga hidup dalam pola. Cara kita berpikir menentukan cara kita bekerja. Cara kita bekerja membentuk kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan bersama membentuk sistem. Sistem yang terus diperbaiki dalam waktu panjang dapat berkembang menjadi sebuah ekosistem.
Karena itu, keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar sesuatu yang kita miliki hari ini. Sering kali yang lebih menentukan adalah seberapa baik sistem yang kita bangun untuk menghasilkan sesuatu secara berkelanjutan.
Orang yang hanya berpikir tentang hasil akan bertanya:
“Berapa yang saya dapat hari ini?”
Orang yang berpikir sistematis akan bertanya:
“Apa yang harus saya bangun agar hasil itu dapat terus tercipta?”
Pertanyaan kedua jauh lebih panjang jaraknya.
Dalam membangun sebuah media, misalnya, kita tidak cukup hanya mencari wartawan. Kita perlu membangun sistem yang membuat wartawan dapat belajar, menulis, mengirimkan berita, mendapatkan koreksi, memahami etika, dan berkembang.
Kita tidak cukup hanya menerbitkan berita. Kita perlu membangun sistem editorial yang menjaga kualitas.
Kita tidak cukup hanya mencari pembaca. Kita perlu membangun kepercayaan.
Kita tidak cukup hanya mencari pemasukan. Kita perlu membangun sumber nilai yang membuat media mampu bertahan.
Kita tidak cukup hanya membuat website. Kita perlu membangun teknologi yang membantu manusia bekerja.
Dengan demikian, media bukan lagi sekadar tempat berita dipublikasikan.
Media menjadi sebuah sistem kehidupan.
Wartawan menjadi bagian dari sistem. Editor menjadi bagian dari sistem. Pembaca menjadi bagian dari sistem. Teknologi menjadi bagian dari sistem. Komunitas, pendidikan, bisnis, data, dan pengetahuan juga menjadi bagian dari sistem.
Setiap bagian mempunyai fungsi yang berbeda, tetapi semuanya harus bergerak menuju tujuan yang sama.
Di sinilah saya melihat sebuah hubungan filosofis dengan rasio.
Bukan berarti setiap sistem manusia harus mengikuti angka 1,618 secara matematis. Dan bukan pula berarti golden ratio merupakan bukti ilmiah tentang keberadaan Tuhan.
Tidak demikian.
Rasio emas kita gunakan sebagai metafora tentang proporsi dan keseimbangan.
Sebab sebuah sistem yang terlalu berat pada satu sisi akan kehilangan keseimbangannya.
Media yang hanya mengejar keuntungan dapat kehilangan kepercayaan.
Media yang hanya mengejar jumlah berita dapat kehilangan kualitas.
Media yang hanya mengejar teknologi dapat kehilangan manusianya.
Media yang hanya bergantung kepada satu pemimpin akan sulit bertahan ketika pemimpin itu tidak ada.
Maka yang kita cari adalah keseimbangan.
Manusia dan teknologi.
Kecepatan dan ketelitian.
Kebebasan dan tanggung jawab.
Pertumbuhan dan keberlanjutan.
Bisnis dan idealisme.
Individu dan sistem.
Ketika bagian-bagian tersebut mulai menemukan proporsinya, sebuah organisasi tidak lagi hanya tumbuh karena tenaga seseorang. Ia mulai tumbuh karena sistem yang dibangun bersama.
Itulah cara berpikir yang ingin saya gunakan dalam membangun media.
Saya tidak ingin membangun sesuatu yang hanya besar ketika saya berada di dalamnya.
Saya ingin membangun sesuatu yang mempunyai pola, aturan, pengetahuan, teknologi, dan budaya kerja yang dapat terus berkembang bahkan ketika generasi di dalamnya berganti.
Sebab membangun media bukan hanya tentang membuat berita hari ini.
Membangun media adalah membangun kemampuan untuk terus menghasilkan pengetahuan, menjaga kebenaran, melahirkan manusia baru, dan menciptakan nilai dalam waktu yang panjang.
Dari angka kita belajar tentang pola.
Dari pola kita belajar tentang sistem.
Dari sistem kita belajar tentang keseimbangan.
Dan dari keseimbangan kita belajar bahwa sesuatu yang besar tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar.
Kadang ia dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana, kemudian tumbuh sedikit demi sedikit, terhubung satu sama lain, dan akhirnya membentuk sebuah keteraturan yang jauh lebih besar daripada bagian-bagiannya.
Mungkin manusia tidak akan pernah mampu memahami seluruh rahasia keteraturan ciptaan Tuhan.
Tetapi manusia dapat terus belajar membacanya.
Dari angka, menjadi pola.
Dari pola, menjadi sistem.
Dari sistem, menjadi ekosistem.
Dari ekosistem, menjadi keberlanjutan.
Dan pada akhirnya, bukan angka 1,618 yang menjadi tujuan.
Yang kita cari adalah keseimbangan yang membuat kehidupan terus bertumbuh.
Di sanalah, secara filosofis, kita mulai mendekati makna dari rasio emas.
Jihad abd mujahid










Komentar