Motor MBG: Deru Sunyi Program Gizi dan Bau Aneh di Balik Anggaran


Jurnalisme gonzo Discoverynews.id 13 April 2026  Di tengah narasi besar tentang Makan Bergizi Gratis sebuah janji negara untuk anak-anak yang perutnya lebih sering kosong daripada penuh tiba-tiba yang muncul bukan piring nasi, bukan dapur, bukan antrean makan siang sekolah. Yang muncul justru barisan motor listrik. Rapi. Seragam. Seperti pasukan yang belum diberi medan perang.

Motor MBG.?

Mereka bilang ini solusi distribusi. Alat untuk menjangkau desa-desa, membawa makanan ke titik yang tak bisa disentuh kendaraan besar. Kedengarannya masuk akal. Bahkan terdengar mulia. Tapi dalam dunia yang terlalu sering melihat proyek besar lahir dari meja rapat yang jauh dari lumpur jalan desa, “masuk akal” kadang hanya kata lain dari “jangan terlalu banyak bertanya”.

Dikutip detik.com

Angkanya sendiri seperti bergerak di kabut. Puluhan ribu, kata sebagian. 70 ribu, kata yang lain. Lalu direvisi lagi, dikoreksi lagi sekitar 21 ribu unit. Tapi sejak kapan angka benar-benar menjadi inti dari cerita seperti ini? Yang lebih penting justru getaran di bawahnya: rasa janggal yang sulit dijelaskan, tapi juga sulit diabaikan.

Di ruang-ruang resmi, penjelasan mengalir rapi. Motor ini untuk efisiensi. Untuk mempercepat distribusi. Untuk memastikan program sampai ke ujung negeri. Semuanya terdengar seperti slide presentasi yang sudah disiapkan dengan baik, lengkap dengan kata-kata yang steril dari keraguan.

Tapi di luar ruang itu, realitas tidak pernah steril, Di parlemen, suara mulai naik. Pertanyaan tentang pengadaan, tentang anggaran, tentang proses yang melahirkan ribuan unit sekaligus, tanpa jeda yang cukup untuk publik bernapas dan memahami. Karena di negeri ini, setiap proyek besar selalu membawa satu bayangan yang sama: uang publik yang bergerak terlalu cepat, terlalu jauh, dan terlalu sering tanpa jejak yang mudah diikuti.

Lalu muncul satu detail yang mengganggu: nama merek yang tiba-tiba hadir dalam jumlah besar. Emmo. Nama baru yang mendadak ada di tengah program raksasa. Seperti seseorang yang baru masuk ruangan, tapi sudah duduk di kursi utama tanpa banyak penjelasan. Tidak harus salah, tapi cukup untuk membuat orang menoleh dua kali.

Dan di titik ini, gonzo mulai bekerja.

Karena gonzo tidak pernah percaya pada cerita yang terlalu bersih.

Saya membayangkan seorang petugas di lapangan, mengendarai motor listrik itu di jalan tanah yang basah. Di belakangnya ada kotak makanan. Di depannya ada desa. Di sekelilingnya ada hujan tipis dan jalan yang tidak peduli pada slogan program. Di situ, semua teori tentang efisiensi bertabrakan dengan satu hal sederhana: medan nyata tidak pernah tunduk pada rencana yang dibuat dari kejauhan.

Di desa, anak-anak menunggu. Mereka tidak peduli merek motor, tidak peduli anggaran, tidak peduli debat di televisi. Mereka hanya peduli apakah makanan itu datang atau tidak. Dan itu membuat semuanya menjadi lebih sederhana sekaligus lebih rumit.

Karena di satu sisi, program ini bisa saja benar. Bisa saja dibutuhkan. Bisa saja menjadi jawaban. Tapi di sisi lain, cara ia muncul terasa seperti pengulangan pola lama: proyek besar, pengadaan besar, penjelasan besar dan di antara semuanya, selalu ada ruang kosong yang tidak dijelaskan sepenuhnya.

Motor-motor itu kini ada. Diam. Menunggu digunakan. Menunggu jalan. Menunggu cerita ini selesai atau justru dimulai ulang dengan versi yang berbeda.

Dan di tengah semua itu, satu pertanyaan tetap menggantung, tidak perlu diteriakkan, hanya cukup dirasakan:

apakah ini benar-benar kendaraan untuk mengantar gizi atau hanya kendaraan lain dari sistem yang sudah terlalu terbiasa bergerak tanpa pernah benar-benar berhenti untuk ditanya ke mana arahnya?

Jihad


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *