Cilegon, discoverynews.id — Gelombang tuntutan penutupan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah di Kota Cilegon terus menguat. Hal ini dipicu oleh kasus keracunan yang diduga berasal dari menu MBG di salah satu Madrasah Tsanawiyah (MTs), serta adanya laporan korban dari kalangan guru dan siswa Sekolah Dasar di wilayah yang sama.
Peristiwa tersebut menimbulkan keresahan di kalangan guru maupun orang tua murid. Mereka mengaku khawatir terhadap keamanan konsumsi makanan yang disediakan melalui program MBG.
Meskipun tidak semua dapur MBG dinilai lalai dalam proses pengolahan makanan, kekhawatiran tetap muncul. Sebagian orang tua memberikan penilaian negatif terhadap program tersebut sebagai bentuk antisipasi demi keselamatan anak-anak mereka.
Kasus yang terjadi di salah satu MTs di Kota Cilegon, dengan jumlah korban mencapai sekitar 49 siswa, menjadi perhatian serius. Insiden tersebut dinilai cukup traumatis, terutama bagi para orang tua murid yang menganggap konsumsi menu MBG justru berisiko terhadap kesehatan.
Salah seorang orang tua murid di MTs Jombang, Kota Cilegon, mengungkapkan bahwa dirinya melarang anaknya mengonsumsi makanan dari program MBG.
“Anak saya sengaja dilarang untuk tidak makan makanan dari MBG. Lebih baik membeli makanan sendiri seperti nasi uduk untuk sarapan atau makan siang. Kami sebagai orang tua merasa khawatir jika terjadi hal serupa,” ujarnya, Selasa (21/04/2026).
Ia menambahkan bahwa langkah tersebut merupakan bentuk kewaspadaan, meskipun dirinya menyadari tidak semua penyelenggara MBG melakukan kelalaian.
“Memang tidak semua dapur MBG ceroboh, tetapi kami memilih untuk mengantisipasi demi keamanan anak,” tutupnya.
(F.G)












